Header Ads

Blukbuk Luwung Menuju Kampung Cabai



JAKARTA—-Salah satu kebijakan  dari  Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) kepada anggotanya ialah budi daya cabai di lahan pekarangan, yang  bertujuan untuk mengurangi pengeluaran keluarga dari anggota terhadap kebutuhan akan cabai
“Ini kebijakan pengurus utk pemberdayaan anggota agar menekan pengeluaran rumah tangga. Komoditas  cabai harganya fluktuatif dan mudah ditanam,” kata Presiden Direktur Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara ketika dihubungi Peluang, beberapa waktu lalu.
Ada dua kegiatan budi daya cabai yang didorong  oleh Kopsyah BMI di Kampung Blukbuk Luwung, Desa Blukbuk, Kecamatan Mekarbaru; yaitu budi daya cabai di lahan pekarangan  dan Usaha tani cabai.
Budi daya cabai di lahan pekarangan, dimulai sejak 2015 silam. Diawali dengan kerja sama Kopsyah BMI dengan Institut Pertanian Bogor. Di setiap tahunnya, kegiatan dilakukan untuk menemukan model pendekatan terbaik, sehingga program dapat berjalan baik dan berkelanjutan.
Menurut Koordinator Pertanian Kopsyah BMI Budi Setyawan, Kampung Blukbuk Luwung merupakan kampung pertanian. Mayoritas warganya adalah petani, yang mana cabai merupakan komoditi yang sering mereka budidayakan pada musim penghujan dibandingkan dengan kampung-kampung lainnya yang ada di wilayah tersebut.
“Minat mereka terhadap program budidaya cabai di lahan pekarangan relatif lebih baik dibandingkan dengan kampung lainnya di mana kegiatan ini dilaksanakan,” ujar Budi kepada Peluang,  Jumat (4/1/2019).
Budi  menyebutkan sebanyak 145 ibu rumah tangga mengikuti kegiatan budi daya cabai di lahan pekarangan yang dilaksanakan pada pertengahan tahun 2018.  Ada yang masih berjalan sampai saat ini.
“Selain ibu-ibu rumahtangga, kegiatan ini juga melibatkan beberapa santri dari pesantren yang berada di wilayah kegiatan,” lanjut  dia.
Budi daya dilakukan dengan menggunakan polybag, mengingat bahwa lahan pekarangan adalah lahan yang relatif sulit untuk diolah sebagaimana lahan pertanian pada umumnya. Sehingga penggunaan polybag sebagai tempat media tanam sangat efektif dan ekonomis.
Kontribusi yang di berikan oleh para peserta dalam kegiatan ini adalah polybag dan tenaga untuk merawat tanaman cabai yang mereka miliki.
Sarana produksi lainnya selain polybag, difasilitasi oleh Kopsyah BMI berikut tenaga penyuluh lapangan yang membantu para peserta dalam melakukan kegiatan dan merawat tanaman cabai.
Setiap peserta mendapatkan 30 bibit tanaman cabai, yang terdiri dari 15 bibit tanaman cabai merah dan 15 bibit tanaman cabai rawit besar. Jenis tanaman cabai yang dibudidayakan adalah sesuai dengan keinginan dan kebutuhan para peserta.
Rata-rata nilai investasi untuk sebatang tanaman cabai dalam polybag sampai dapat menghasilkan buah panen adalah sebesar Rp8.000,- (tidak termasuk polybag dan tenaga penyuluh).
Sedangkan potensi rata-rata panen pertanaman adalah sebanyak 0,5 kg sampai 1 kg, yang jika dikonversi dengan harga beli konsumen cabai di pasar tradisional yaitu sebesar Rp 12.500,- sampai Rp 25.000.
Sehingga, untuk sebanyak 30 tanaman dalam polybag, setiap peserta berpotensi mengurangi pengeluaran rumahtangga mereka sebanyak Rp 375.000,- sampai Rp 750.000,-.
Penyuluh lapang bertugas mendampingi para peserta dalam memelihara tanaman serta dalam pengendalian tanaman terhadap serangan hama maupun penyakit tanaman dan buah cabai.
Adanya peningkatan pengetahuan peserta dalam membudidayakan tanaman cabai, merupakan salah satu strategi untuk kesiapan para peserta melakukan penanaman kembali setelah tanaman mereka tidak lagi produktif.
Untuk tahapan berikutnya, para peserta diharuskan untuk menabung senilai hasil panen cabai yang mereka ambil dari tanaman mereka.
Tabungan ini akan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan akan sarana produksi tanaman cabai pada musim tanam berikutnya atau untuk menambah volume jumlah tanaman dalam polybag yang akan mereka budidayakan.
Sehingga ke depannya, tanaman cabai di lahan pekarangan tidak hanya untuk mengurangi pengeluaran belanja rumah tangga peserta, tetapi juga dapat menambah penghasilan keluarga dari kelebihan hasil panen yang mereka jual.
Berbeda dengan budi daya dalam polybag, budi daya tanaman cabai di lahan usaha tani merupakan pendekatan pada skala usaha.  Saat ini dan sebagai pilot project, kegiatan dilaksanakan melalui kerjasama dengan dua orang petani cabai dengan pola kerja sama Qardh.
Pilot project ini bertujuan untuk memperkenalkan teknik budidaya cabai di lahan sesuai standar umum pada budi daya cabai di lahan pertanian.
Ini perlu dilakukan karena petani cabai di wilayah tersebut, membudidayakan cabai masih dengan cara-cara sederhana serta didukung dengan pengetahuan bercocok tanam yang masih relatif minim.
Melalui pilot project ini, diperkenalkan teknik-teknik standar dalam budi daya cabai serta diadakannya pertemuan rutin mingguan dengan petani untuk belajar bersama seputar budi daya cabai.
“Walau kerja sama hanya melibatkan dua orang petani, tetapi pada pertemuan mingguan diikuti oleh tujuh orang petani, yang secara sukarela ingin ikut terlibat dalam diskusi-diskusi tentang budi daya cabai yang benar,” ujar Budi ((Irvan Sjafari).
Diberdayakan oleh Blogger.